PROFIL YAYASAN ASA BANGSA

YAYASAN ASA BANGSA yang berarti Harapan Bangsa” adalah satu yayasan nir laba didirikan pada tanggal 21 Juli 1999 oleh 7 orang pendiri yaitu : Ny. Sulfiah Ambardy, Ny. Poppy Puspitasari Hayono Isman, Dr. HM Sarengat MM, Dr. Murcuanto Diwanto, Dr Linda Rachmat, Ir. Daddy Hariadi dan Ny. Netty Hariadi adalah pribadi dari berbagai profesi pada saat itu merasa prihatin dan terpanggil untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi masalah penyalahgunaan narkoba melalui upaya kuratif dan upaya preventif , terutama yang terjadi pada generasi penerus : remaja

Melalui upaya kuratif dan preventif ini Yayasan Asa Bangsa bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah akan bahaya penyalahgunaan narkoba.

Upaya kuratif yang dijalankan oleh yayasan adalah pengobatan kepada para penderita khusus ketergantuangan opiate, heroin, atau putau dengan metode ANR : Accelerated Neuro-Regulation DR. Andre Waismann dari The Waismann Institute of Advance Treatment and Research of Opiate Dependency. DR. Andre Waismann bekerja sama dengan Yayasan Asa Bangsa, sudah 3 kali datang di Jakarta dalam rangka program alih teknologi Metode ANR kepada 12 orang dokter anestasi , 4 dari dokter tersebut yaitu : Dr. Linda Rachmat, Dr. Gunawan Darmansyah, Dr. Yudarma Thedja dan Dr. Sun Sunatrio telah mendapatkan The Certificate Of Waismann Method of Accelerated Neuro-Regulation melalui 20 pasien penderita ketergantungan opiate/putau.

Sampai saat ini yayasan telah melakukan pengobatan dengan Metode ANR kepada kurang lebih 450 orang. Kiat daripada yayasan adalah “ jangan sampai gerak pengobatan kalah cepat dengan gerak penyalahgunaan narkoba” yang demikian gencarnya digerakan oleh para Bandar dan perusak. Untuk itulah pengobatan kepada para pecandu ini harus tepat, benar, dan efektif dengan metode, dokter cara pengobatan apapun, ANR adalah salah satu solusi terapi bagi penderita ketergantungan heroin dengan cara yang efektif, efisien, aman dan berperikemanusiaan. Hindari pertentangan dari dokter, tempat pengobatan, metode dan para pekerja sosial bahwa cara yang satu lebih baik dari cara yang lain, karena hal ini hanya akan menguntungkan para Bandar. Saat ini bangsa kita memerlukan banyak pemerhati dari setiap lapisan dan profesi masyarakat, kepedulian bagaimana caranya memberantas penyalahgunaan dan pengedaran narkoba – menuju cita-cita Indonesia bersih dari masalah narkoba. Penderita janganlah dianggap masyarakat kriminal tetapi lebih condong dianggap korban, dibesarkan hati mereka untuk mau berobat dan hidup kembali dengan harapan – ASA, “sekali junkies tetaplah junkies” slogan yang miris pesta pora Bandar, itulah sebabnya kami disebut yayasan Asa Bangsa, kalau tidak demikian pangsa semakin besar dan tentunya dengan senang hati Bandar tidak akan berpindah dari pangsanya – negara kita.

Upaya preventif yang kami lakukan adalah Gerakan Penyuluhan ke seluruh lapisan masyarakat, sekolah-sekolah tingkat SD sampai dengan SMU dan Universitas, di lingkungan perumahan/pemukiman, perkantoran, perkumpulan, organisasi wanita, dan masyarakat umum lainnya.

Yayasan saat ini sedang membuat Buku Panduan Penyuluhan dengan judul “Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Bagi Orang Tua dan Remaja” , Buku cerita Anak dengan judul “Pengalaman Baruku” , menceritakan pengalaman seorang anak laki-laki, dari keluarga harmonis yang menerapkan dasar kepribadian secara sederhana dengan menanamkan pemahaman tentang kesehatan fisik, sosial dan kesehatan emosi, buku ini adalah upaya pencegahan dini penyalahgunaan narkoba bagi anak-anak usia 6 s/d 8 tahun dan Buku Artikel Narkoba dengan judul “Seberkas Cahaya di Ujung Jalan” berisi segala sesuatu yang berkaitan dengan narkoba dan penyalahgunaannya. Artikel tentunya tidak akan kadaluwarsa, oleh sebab itu buku ini dapat dijadikan pegangan pengetahuan tentang narkoba dan permasalahannya, karena pengalaman penyuluhan kesetiap lapisan dan profesi masyarakat serta riset latar belakang dari para pecandu mengatakan bahwa masyarakat Indonesia terimbas penyalahgunaan narkoba ini disebabkan ketidak tahuan, kurang mengerti, tidak paham akan sebab akibat penyalahgunaan narkoba.

Fakta menceritakan ada seorang ibu sebagai penyuntik anaknya, dikarenakan ketidak tegaan melihat anaknya kesakitan karena ‘sakau', ada seorang Bapak terjerumus pada penyalahgunaan narkoba karena keingintahuan yang miris mengapa anaknya sebagai pecandu sangat sulit disembuhkan dari ketagihan, ada keluarga orangtua dan anak sebagai pengedar untuk menyambung hidup, mereka tidak sadar sedang merusak anak bangsa…….. dan seterusnya. Banyak bentuk obat-obatan terlarang menyerupai atau hampir sama dengan obat yang dikonsumsi secara legal.

Secara turun menurun kita hanya ditakuti dengan nasihat “jangan coba narkoba karena haram, illegal, dan kecanduan” namun dibalik nasihat itu sebetulnya kita tidak tahu bahwa seorang pengguna narkoba, bukan sekedar berbuat haram, bertindak illegal atau terikat kecanduan dia sedang menghancurkan kehidupannya, merusak tatanan keluarga, bermasyarakat dan bernegara. Buku Artikel Narkoba “Seberkas Cahaya Di ujung Jalan” inilah dimaksudkan sebagai sarana penyuluhan, ilmu pengetahuan yang akan merambu siapapun juga untuk menghindar dari penyalahgunaan narkoba. Buku ini akan dibagikan keseluruh sekolah dan universitas di Indonesia secara Cuma-Cuma dan dijual ke masyarakat umum dengan harga yang terjangkau.

Berdasarkan riset yang tentunya masih terbatas pengguna narkoba khususnya opiate dari tahun ke tahun cenderung meningkat tanpa memandang batas umur. Pengguna heroin termuda berusia 11 tahun, radius penjualan pun semakin mendekati tempat-tempat sensitive : sekolah, perumahan, tempat ibadah, area rekreasi, pasar dan lain sebagainya. Penjual ataupun Bandar kecil menganggap usaha ini adalah satu peluang yang mudah untuk mencari nafkah, menanggulangi masalah kebutuhan sehari-hari. Sebagian dari pengguna atau penderita ketergantungan narkoba adalah masyarakat yang kurang mampu atau miskin, sehingga sangat kecil peluang atau akses yang dimiliki mereka untuk pergi berobat. Sementara penyakitnya sendiri sangat menghantui dan merusak sendi-sendi kehidupan. Paradigma si miskin tidak mampu untuk mengobati dirinya pengganggu masyarakat tentunya akan menjadi lingkaran setan tidak akan ada putusnya. Untuk itulah Yayasan Asa Bangsa mempunyai program Bhakti Sosial yaitu pengobatan dengan metode ANR secara Cuma-Cuma diperuntukkan bagi penderita yang tidak mampu namun dengan kriteria bahwa latar belakang mereka baik dirinya maupun keluarga mengatakan bahwa apabila sudah sembuh atau tertolong mereka masih dapat melanjutkan kehidupan, salah satunya bekerja maupun sekolah artinya mereka masih mempunyai peluang yang baik untuk hidup normal berdasarkan kemampuan/keahliannya yang ada pada dirinya, lingkungan bersih dan dorongan moril maupun materil.