SEPUTAR ACCELERATED NEURO-REGULATION


Apakah ada efek samping dari pengobatan metode ANR ?

Semua obat-obatan yang digunakan untuk prosedur ANR sudah diakui oleh food &drugs Association (FDA) selama kurang lebih 20 tahun. Pasien akan mengkonsumsi naltrexone selama satu tahun. Sampai saat ini tidak ditemukan efek samping yang serius baik di klinik dr. Waismann ataupun di Yayasan Asa Bangsa.

 

Berapa lama saya harus mengkonsumsi naltrexon ?

Pasien akan mengkonsumsi naltrexone selama 10 sampai 12 bulan setelah prosedur dijalani. Naltrexon akan mengembalikan kondisi pasien kembali normal dan bebas dari kecanduan tanpa adanya keinginan yang sangat dalam terhadap opiate. Hal tersebut akan menjaga receptor opiate dalam otak dan menahan pengaruh yang kuat dari opiate (Heroin, Metadone, dll) sehingga pasien mampu memulai kehidupan yang sehat dan produktif kembali.

 

Apa keunggulan metode ANR dari metode Rapid Detoxification yang lain?

ANR secara efektif mampu memulihkan fisik dan psikologis dari ketergantungan opiate. ANR terbukti lebih aman dari pada metode lainnya, termasuk semua jenis metode detoksifikasi secara cepat (Rapid Detoxification), karena:

  • Kami tidak setuju dengan pendapat bahwa orang-orang yang mengalami ketergantungan opiate memiliki kepribadian lemah.
  • Terapi psikologis yang memakan waktu lama bukanlah cara untuk menyembuhkan orang dari ketergantungan opiate.
  • Bagi kami pasien yang sudah menjalani perawatan tidak dapat dikategorikan “masih kecanduan”.

 

PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN

Pertanyaan :
Apakah terapi ini berbahaya ?

Jawaban :
Tidak ada satu kejadian komplikasi medis yang besar ataupun yang berdampak kematian, pernah terjadi di klinik Dr. Waismann maupun di Asa Office Centre.

 

Pertanyaan :
Apakah kerahasiaan terjamin?

Jawaban :
Ya. Privacy dan kerahasiaan dijamin secara professional.

 

Pertanyaan :
Keinginan atau kerinduan ? setelah detoksifikasi apakah saya akan mengalami keinginan atau kerinduan ?

Jawaban :
Tidak. Dosis harian naltrexon (non-adictive, non-narcotic/opiate antagonist) menutupi reseptor otak, menghambat atau memblokade kemampuan opium untuk mengendalikan. Misalnya jika pasien melanggar disiplin dan mencoba opiate, dia tidak akan merasakan efeknya.

 

Pertanyaan :
Bagaimana mengenai rehabilitasi ?

Jawaban :
Tergantung dari pada status pasien saat ini dan riwayatnya dimasa lalu, kemudian satu proses rehabilitasi mungkin dapat direkomendasikan. Hal yang sama berlaku pada tindak lanjut konseling terapi, dan lain selanjutnya. Berdasarkan hal itu pemaparan yang berlebihan tentang seorang mantan pemakai, persoalannya sebagai ketagihan atau keinginan dan ketergantungan sementara dia menterapi secara pharmacological menyebabkan susunan syaraf tertarik melakukan perlawanan secara produktif (Excitation Counter Productive) pada pasien itu. Menurut pengalaman kami berdasarkan lebih dari 4000 pasien, rehabilitasi utamanya harus dimulai dengan menangani masalah hidup pasien, misalkan : mengenai masalah lapangan kerjanya, hubungan keluarga, waktu senggang, dan sebagainya.

 

Pertanyaan :
Apakah ada efek-efek samping dari pengobatan yang digunakan?

Jawaban :
Semua pengobatan (obat-obatan) yang dipakai dalam terapi telah disetujui oleh Lembaga Pengawasan Obat (FDA). Pasien akan berada pada satu rezim Naltrexon. Selama satu tahun sebagai tindak lanjut prosedur ini. Naltrexon sudah disetujui oleh lembaga pengawasan obat (FDA) dan telah dipakai untuk sekitar 30 tahun dan selama itu belum pernah diketahui efek samping yang serius.

 

Pertanyaan :
Berapa lama saya akan mengambil Naltrexon setelah menjalani prosedur ?

Jawaban :
Pasien akan meminum Naltrexon untuk 10 bulan sampai dengan satu tahun setelah prosedur dilaksanakan. Alas an utama dosis perawatan ini adalah untuk menjaga kondisi pasien terhadap pengaruh akibat opium (misalnya heroin, metadon, dan sebagainya), dengan cara menghambat/memblokade untuk mengurangi dan menghilangkan kerinduan serta menciptakan suatu situasi dimana pasien tanpa pemakaian opium dapat memulai atau melanjutkan kembali kehidupannya secara normal.

 

Pertanyaan :
Apakah kegunaan dan kelebihannya ?

Jawaban :
Kelebihan perawatan ini adalah :

  1. Tidak ada drop out dari “Detoksifikasi”
  2. Tidak ada kegelisahan yang nyata dal;am proses ini.
  3. Pasien diblokade atau dihambat dari opium dengan segera (Heroin, Methadon, Morphin, dan lain-lain)
  4. Pengaturan kerinduan / ketagihan yang efektif.
  5. Perawatan dengan Naltrexon selama setahun penuh
  6. Ketaguhan opium ditangani sebagai sebuah penyakit dan tidak sebagai alih karakter misalnya pendekatan medis yang efektif dan berperikemanusiaan
  7. Pasien setelah menjalani prosedur dapat mencurahkan banyak energi melalui fisik yang bebas dalam merehabilitasi dirinya sendiri

 

PERIHAL NALTREXONE

Selama hamper tiga decade terapi naltrekson dipakai untuk mencegah relase/kambuh kembali pada penderita ketergantungan opiate setelah mereka menjalani detoksifikasi. Selama ini kepatuhan minum obat merupakan masalah dan berbagai kelompok melaporkan hasil yang beragam. Salah satu alas an bahwa pasien menghentikan terapi naltreksonnya, disebabkan oleh beberapa efek samping yang dirasakan, misalnya : badan terasa lelah, kejang perut dan mual, susah tidur dan galau. Hal itu sifatnya hanya sementara namun mungkin saja terjadi karena mengkonsumsi naltrekson dengan dosis yang terlalu besar.

Waismann telah meninjau beberapa protocol terapi dari beberapa pusat, apa yang menyebabkan keluhan dan ternyata ditemukan bahwa mereka itu memakai dosis 100-250 mg per harinya yang mana hal ini hampir 10 kali lipat dosis yang digunakan Waismann. Naltrekson hendaknya diberikan dalam dosis yang tidak akan menimbulkan efek samping kepada pasien namun tentunya satu dosis efektif bagi blokade reseptor opiate dengan tujuan mencegah relapse dan merasa ketagihan (cravig), sugesti dan bahkan apabila mereka memakai opiate sekalipun, blokade menghalangi ‘euforia' atau ‘high'. Kesimpulannya naltrekson harus dikonsumsi secara rutin dengan dosis yang benar.

Naltrekson suatu antagonis narkotik, klinis digunakan untuk terapi penderita ketergantungan heroin/opiate, namun sekarang digunakan juga misalnya untuk terapi diskinesia, yang berhubungan dengan Huntington 's Diase (HD). Potensial naltrekson dapat berfungsi sebagai hepatotoksin, seperti tercermin pada peningkatan kadar transaminasi hati, namun satu penelitian menyimpulkan bahwa untuk terapi singkat selama 12 minggu, tidak ada indikasi kontra terapi dengan naltrekson yang semata-mata berdasarkan peningkatan enzim hati. Penelitian ini memantau kadar transaminasi hati pada 10 pasien yang mendapat dosis antara 50 mg dan 300 mg per-hari naltrekson selama 10-36 bulan.

Kadar serum glutamic oxalacetic transaminasi (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminasi (SGPT) diperiksa sebelum terapi selama interval dengan 1 sampai 4 bulan. Hanya 1 diantara 10 pasien yang diberi naltrekson meningkat kadar SGOT dan SPGTnya, sedangkan satu pasien lain menunjukkan kadara SPGT. Kenaikan ini awalnya muncul sehubungan dengan dosis, menurun ke batas normal dengan dilanjutannya terapi.

Karena banyak pasien yang sedang menerima obat lain maka kombinasi obat ini dengan naltrekson mungkin berperan pada peningkatan kadar transmanisasi seperti pada 2 (dua) kasus diatas.

Ringkasnya pemberian kronik naltrekson dalam dosis sampai dengan 300 mg perhari dalam jangka 36 bulan tidaklah mengubah fungsi hati secara berarti, seperti yang ditunjukkan oleh kadar SGOT dan SGPT