![]() ![]() ![]() |
|
ACCELERATED NEUROREGULATION
PendahuluanKecanduan narkotik merupakan problema internasional, tidak terkecuali Indonesia. Kecanduan narkotik merupakan problema yang sulit diatasi, baik secara individual maupun nasional. Makin tinggi tingkat kecanduan makin gawat pula implikasi social dan ekonomi yang timbul. Perang melawan narkotik tidak dapat dimenangkan tanpa adanya suatu metode penyembuhan yang efektif bagi para pecandu narkotik. Telah diketahui bahwa cara konvensional/tradisonal penanganan pasien kecanduan narkotik banyak mengandung kelemahan antara lain butuh waktu lama, dirasakannya gejala putus obat yang menyengsarakan, pasien tidak sabar dan depresif, pasien sering protes dan dokter bias merasa jengkel terhadap pasien, sehingga banyak yang gagal. Klinik terbaik di Amerika pun hanya mendapatkan angka keberhasilan setinggi 50%, walau sesudah menjalani terapi berbulan-bulan. Detoksifikasi opioid (pengeluaran narkotik dari tubuh) cepat merupakan teknik untuk detoksifikasi pasien kecanduan narkotik yang semakin meningkat popularitasnya di dunia. Ada beberapa istilah untuk teknik ini : Intensive Narcotic Detoxification, Ultra Rapid Opiate Detoxification, One Day Detoxification Programs, Accelerrated Neuroregulation of Opiate Dependency. Belajar dari pengalaman mengobati pasien pecandu narkotik, Waismann mencoba mendapatkan hubungan antara serdadu/pahlawan perang, bayi dan pecandu obat di jalan-jalan. Disadarinya bahwa kebanyakan bukanlah kasus psikiatrik, namun mereka menderita akibat penyakit fisis. Jadi yang dibutuhkan bukanlah terapi psikiatrik saja yang hanya mengatasi tingkat gejala, namun yang lebih penting suatu pendekatan medis/neurologis yang memfokuskan pada tingkat reseptor opioid. Ketergantungan narkotik adalah kelainan susunan syaraf pusat. Ini menjadi kronik karena tidak diberikannya terapi medis yang efektif, aman dan berperikemanusiaan. Bila ada, aspek psikologis yang timbul hanyalah merupakan salah satu efek samping sekunder akibat kondisi primer yang tidak diatasi. Dengan metode waismann dokter spesialis anestesiologi dan intesivis (dokter ICU) dapat menyembuhkan penyakit ini. Tidaklah mengherankan selama beberapa dekade, terapi yang hanya berdasar pada pendekatan psikiatris atau psikologis saja memberikan angka keberhasilan yang terbatas. Pasokan narkotik eksogen (dari luar) yang kontinyu menimbulkan kerusakan system yang sangat mendasar dan sangat halus dari keseimbangan alami zat-zat mirip narkotik yang dihasilkan otak. Zat-zat tersebut mengatur nyeri, cairan, pola tidur, tekanan darah dan fungsi-fungsi penting lainnya. Narkotik bekerja setelah terikat pada reseptor µ di otak. Dengan penggunaan kronik, otak beradaptasi terhadap narkotik yang ada. Sekali terjadi pengaturan baru yang berdasarkan jumlah narkotik eksternal, penghentian tiba-tiba pasokan narkotik akan menyebabkan distres berat pada tubuh. Bila pasokan narkotik dihentikan, timbullah ketidakseimbangan biokimiawi. Khususnya, bagian otak yang disebut lokus seruleus berubah menjadi hiperaktif dan menghasilkan hormone stres noradrenalin. Ini memicu nyeri, spasme otot, dan diare, yang menjadikan gejala putus obat (sakau) ini disebut cold turkey karena adanya merinding / bulu roma berdiri akibat spasme otot sekitar foilikel rambut, kicking the habit kaena adanya gerakan tungkai yang tidak disadari. Penghentian konsumsi narkotik menyebabkan muntah , diare, nyeri perut, nyeri tulang seluruh tubuh, berkeringat, hidung meler dan susah tidur. Kondisi kacau ini akan berlangsung selama 7-10 hari. Itulah sebabnya, separo pecandu heroin tidak tahan akan proses ini. Meskipun tidak ada pasokan dari luar, tubuh masih mempunyai cadangan dalam tulang dan jaringan lemak. Karenanya, diperlukan waktu lama sampai seluruh persediaan narkotik dalam tubuh habis. Bila sudah tidak ada lagi kandungan heroin, tubuh memulai proses neuroregulasi. Blokade reseptor dilakukan dengan tablet antagonis (penawar) narkotik yang membuat otak menjadi bersih. Kala otak menjadi bersih, pasien akan mengalami gejala putus obat yang paling berat, sehingga pasien perlu dibius. Tindakan ini dilakukan oleh dokter spesialis anestesi.
Gambar 1. Skema patofisiologi kecanduan narkotik dan terapinya
Dengan detoksifikasi cepat (4-5 jam) sebagian besar opiat akan keluar dari tubuh. Sesudah proses detoksifikasi ini, dimulailah proses neuroregulasi (dengan bantuan naltrekson) selama 9-14 bulan. Bergantung pada berat ringan kelainan psikologis yang timbul pasien perlu pula mendapat bantuan psikososial / mental dari ahli psikologi, psikiater dan atau agama. Mental pasien perlu diperkuat agar tidak mudah menjadi pecandu lagi, bilamana sudah normal kembali (jumlah reseptor yang aktif kembali seperti semula).
ANRAdalah prosedur satu hari, dimana pasien dibius selama terjadi puncak sakau (gejala putus obat / Withdrawal). Metode terapi ini dikhususkan pada ketergantungan golongan narkotik opiat yaitu putau,/heroin/morfin, opium, petidin, entanil, kodein, metadon, bukan untuk ketagihan ganja/mariyuana, kokain, crack, alcohol atau tembakau. Ketergantungan opiat adalah kelainan susunan syaraf pusat akibat konsumsi opiat yang berkesinambungan, ke tidak seimbangan kimiawi akibat ketergantungan opiat menyebabkan distress fisis dan dan distress psikologis. Reseptor opioid / heroin (penerima opiat) memainkan peranan pada kedua aspek penyakit ini. Metode Waismann memfokuskan pada pengobatan ketergantungan opiat ditingkat reseptor. Metode ini memblokade reseptor opioid/heroin di otak dengan tujuan menimbulkan gejala sakau, sementara itu pada saat bersamaan gejala sakau tersebut dikendalikan, ini dicapai dengan memakai obay-obatan terdiri dari obat anastesi yang menyebabkan pasien tidak sadar selama terapi.
Gambar 2. Skema perbandingan metode ANR dengan metode alamiah
SEBELUM PROSEDUR ANR
SELAMA PROSEDUR ANRProsedur ini mempercepat fase akut sakau. Secara alamiah fase akut sakau berlangsung selama 8-10 hari. Itulah sebabnya sebagian besar penderita tidak tahan kondisi ini, sedangkan terapi ANR hanya berlangsung selama 4 jam dan dalam keadaan dibius. Reaksi sakau dapat dikendalikan sehingga aman bagi pengobatan. Setelah melewati gejala sakau yang sangat berat, biasanya merasa lelah atau lemas, dan dapat diatasi dengan rawat inap semalam di ICU sampai diperbolehkan pulang sebagai pasien rawat jalan dengan meminum naltrexon.
SESUDAH PROSEDUR ANRProsedur selama 1 hari hanya permulaan neroregulasi atau rehabilitasi yang sesungguhnya. Efek samping yang sifatnya sementara timbul setelah terapi, akan diobati secara perlahan-lahan namun pasti selama 10-12 bulan, dengan jalan meminum naltrexon tidak akan mengalami sakau (withdrawal) walaupun mengkonsumsi putau / heroin. Dengan pemakaian biasa atau sedikit tidak akan merasakan nikmatnya (euphoria), akan dapat dirasakan nikmatnya kembali dengan dosis tinggi namun hal tersebut beresiko kematian. Apabila pasien naltrexon sebelum 10 bulan atau sebelum waktunya dan kemudian mengkonsumsi narkotik kurang lebih sebesar dosis terakhir sebelum terapi maka terjadilah keracunan obat.
|
home | profil | misi & visi | program kerja | info drugs | konseling | contact us |